Perairan Ini adalah Keajaiban Dunia

Indonesia sebenarnya telah melupakan satu kejaiban dunia di bidang kelautan dan perikanan. Bisa dibilang keajaiban karena memang hal ini diklaim terjadi hanya di Indonesia saja, tepatnya di perairan Maccini Baji, Takalar, Sulawesi Selatan. Profesor Jana T. Anggadiredja peneliti rumput laut dari Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) Republik Indonesia membenarkan perihal keunikan perairan pesisir Takalar, yang memiliki spora yang mampu membuat bibit rumput laut jenis Gracilaria sp. tumbuh sangat subur. Sehingga dalam waktu 40-45 hari, para petani rumput laut Gracilaria dapat memproduksi hasil panen hingga mencapai 4 ton.

“Di periran Maccini Baji ini, pertumbuhan bibit rumput laut jenis Gracilaria terbantu oleh spora yang mampu tumbuh besar seiring bibitnya sendiri, sehingga saat panen, jumlahnya semakin banyak. Namun di pesisir lain, di luar perairan Maccini Baji ini, spora tidak mampu berkembang sesubur ini,” ungkap Prof. Jana. Para petani rumput laut di Maccini Baji, Desa Ujung Baji, Takalar Sulawesi Selatan, sebenarnya telah melakukan kegiatan budidaya rumput laut sejak sekitar 30 tahun silam, baik jenis Gracilaria sp. maupun Eucheuma sp., keduanya dilakukan di tambak.

Namun pada sekitar tahun 2009 Koperasi Serikat Pekerja Merdeka Indonesia (Kospermindo) bersama PT. Agarindo Bogatama mengajak para petani di kawasan Maccini Baji mencoba melakukan budidaya Gracilaria di pantai. Cara-cara budidaya yang diterapkan pun sama dengan yang dilakukan di tambak. Namun tak dinyana, rupanya hasil panen lebih banyak dari di tambak dan kualitasnya (termasuk gel strength) lebih bagus. Dari keberhasilan itulah akhirnya tercipta jaringan bisnis rumput laut yang mutualisme antara para petani, Kospermindo, dan PT. Agarindo.

Dan memang bila dibandingkan dengan budidaya Gracilaria sp. di belahan dunia lainnya, baik di Filipina, Sri Lanka, bahkan Hawaii, hasil pertumbuhan spora ikutan tidak sesubur di perairan Maccini Baji. Potensi ini pun dikembangkan secara optimal oleh badan-badan penelitian di Indonesia.

SMART-Fish

Pada sekitar 2013 pihak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui salah satu badan pengembangan industrinya, yakni United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) melihat adanya potensi yang sangat baik pada kegiatan di Maccini Baji tersebut. Dan pada 2014 dibentuklah proyek SMART-Fish yang fokus pada pengembangan sumber daya perikanan oleh UNIDO, termasuk di dalamnya pengembangan rumput laut. Profesor Jana T. Anggadiredja pun didapuk menjadi ahli rumput budidaya laut SMART-Fish. Intenvensi terhadap metode budidaya rumput laut pun dilakukan, baik untuk jenis Eucheuma sp. maupun Gracilaria sp.

Khusus di perairan Sulawesi Selatan, proyek SMART-Fish menangani pengembangan Eucheuma sp. dan Gracilaria sp. di perairan Makassar, Bulukumba, Bantaeng, Jeneponto, dan Takalar. Intervensi SMART-Fish pada budidaya rumput laut ini berhasil ikut meningkatkan hasil panen petani. Peningkatan produktivitas tercatat mencapai hingga di atas 29%. Khusus di budidaya Gracilaria sp., peningkatan produktifitas terjadi hingga 38% sehingga para petani mampu memanen hingga 6 ton. Seluruh prosedur pengembangan budidaya SMART-Fish yang telah diujicobakan sejak 2014 pun dibukukan dalam buku S.O.P SMART-Fish.

Pengembangan budidaya rumput laut SMART-Fish ini pada akhirnya ikut memberdayakan para penduduk di sana. Para perempuan di Desa Ujung Baji selain ikut membantu persiapan suami mereka yang menanam bibit rumput laut, juga ikut turun tangan mengolah hasil panennya.Hasil panen rumput laut tersebut langsung diolah menjadi aneka produk makanan, seperti sirup rumput laut, kerupuk, dan kue kering. Untuk pengolahan ini, SMART-Fish juga ikut turun tangan melalui pelatihan-pelatihan yang dilakukan oleh ahli produksi makanan rumput laut, Maria Gigih Setyarti. Ke depannya, kelompok perempuan di kawasan budidaya rumput laut, baik di Takalar, Bulukumba, Makassar, juga daerah intervensi SMART-Fish. Ada efek viral dari potensi rumput laut di Maccini Baji, yang bila terus dikembangkan, akan menjadi kekuatan tersendiri bagi Indonesia.