Kementerian Kelautan dan Perikanan Terus Tingkatkan Produksi Patin

KEMENTERIAN Kelautan dan Perikanan (KKP) terus berupaya meningkatkan produksi patin sebagai salah satu sumber perikanan tangkap, budidaya, dan pengolahan hasil perikanan. Ini sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 7 tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Industri Perikanan Nasional.

Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelauran dan Perikanan (PDSPKP) KKP Nilanto Perbowo mengungkapkan beberapa upaya yang telah dilakukan ialah bantuan benih, program pakan mandiri, penyediaan induk patin unggul serta kerjasama dengan SMART-Fish Indonesia Programe yang didukung oleh SECO-UNIDO dalam membangun aplikasi untuk perluasan informasi tentang budidaya patin yang baik yang dapat memenuhi standar kesehatan dan keamanan pangan.

“Kami perlu menggerakkan industri patin mulai dari hulu hingga ke hilir sehingga ini bisa menjadi industri yang stabil dan berkelanjutan,” ujar Nilanto di Jakarta, Rabu (11/4).

 

KKP juga, sejak 2015, telah melakukan proteksi dengan menutup keran impor patin. Kebijakan tersebut terbukti ampuh karena setahun setelah diterapkan, produksi produksi patin dalam negeri melonjak dari 339.069 ton menjadi 437.111 ton. Bahkan, pada tahun ini, KKP menargetkan produksi patin bisa mencapai 604.587 ton.

Nilanto mengatakan Indonesia memiliki kemampuan yang sangat baik dalam hal budidaya patin karena banyak wilayah sentra seperti Jambi, Palembang, Riau, Lampung, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah yang sudah mampu menghasilkan ikan air tawar tersebut dengan kualitas baik.

Bahkan, setelah mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, kini industri patin diproyeksikan untuk dilepas ke pasar global karena permintaannya yang cukup besar.

Kebutuhan patin di mancanegara menunjukkan tren positif. Tiongkok salah satunya. Negeri Tirai Bambu memiliki angka impor patin mencapai 34.400 ton per tahun. Disusul Thailand dengan kebutuhan impor 19.200 ton per tahun. (X-10)